Sabtu, 01 November 2008
Jumat, 10 Oktober 2008
Kamis, 04 September 2008
Sepanjang jalan ke sana
YANG TIDAK DAPAT DIUSAHAKAN
Kepada para murid yang secara naif yakin bahwa tak ada
sesuatu pun yang tidak dapat mereka capai jika mereka
menghendakinya dan mengusahakannya, Sang Guru berkata, "Yang
terbaik dalam hidup tidak dapat diusahakan adanya."
"Kamu dapat berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut,
tetapi kamu tidak dapat mengusahakan rasa lapar. Kamu dapat
berusaha telentang di tempat tidur, tetapi kamu tidak dapat
mengusahakan tidur. Kamu dapat berusaha memberikan pujian
kepada seseorang, tetapi kamu tidak dapat mengusahakan rasa
kagum. Kamu dapat berusaha menceritakan rahasia, tetapi kamu
tidak dapat mengusahakan kepercayaan. Kamu dapat berusaha
melakukan tindak pelayanan, tetapi kamu tidak dapat
mengusahakan cinta."
Kepada para murid yang secara naif yakin bahwa tak ada
sesuatu pun yang tidak dapat mereka capai jika mereka
menghendakinya dan mengusahakannya, Sang Guru berkata, "Yang
terbaik dalam hidup tidak dapat diusahakan adanya."
"Kamu dapat berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut,
tetapi kamu tidak dapat mengusahakan rasa lapar. Kamu dapat
berusaha telentang di tempat tidur, tetapi kamu tidak dapat
mengusahakan tidur. Kamu dapat berusaha memberikan pujian
kepada seseorang, tetapi kamu tidak dapat mengusahakan rasa
kagum. Kamu dapat berusaha menceritakan rahasia, tetapi kamu
tidak dapat mengusahakan kepercayaan. Kamu dapat berusaha
melakukan tindak pelayanan, tetapi kamu tidak dapat
mengusahakan cinta."
Senin, 01 September 2008
Kamis, 28 Agustus 2008
Matahari Terbit
TINDAKAN TANPA PAMRIH
Sang Guru ditanyai, "Dapatkah tindakan mengantar orang
kepada Pencerahan?"
"Hanya tindakanlah yang mengantar kepada Pencerahan,"
jawabnya, "tetapi mestinya tindakan tanpa pamrih, yang
dilakukan demi tindakan itu sendiri."
Suatu ketika Sang Guru duduk dengan anak seorang bintang
sepak bola. Ayahnya sedang latihan. Ketika sang ayah
menembakkan bola dan masuk gawang, setiap orang
bersorak-sorai. Anak itu tidak terkesan. Ia hanya duduk saja
dan kelihatan jenuh.
"Ada apa dengan kamu?" kata Sang Guru. "Apakah kamu barusan
tidak melihat ayahmu menciptakan gol itu?"
"Ya, Ayah memang jitu melakukannya pada hari Selasa ini.
Tetapi pertandingannya baru pada hari Jumat. Waktu itulah
gol benar-benar dibutuhkan."
Sang Guru menyimpulkan, "Tindakan-tindakan dianggap bernilai
jika menolong kamu mencapai tujuan-tujuan, bukan demi
tindakan itu sendiri. Sayang sekali!"
Sang Guru ditanyai, "Dapatkah tindakan mengantar orang
kepada Pencerahan?"
"Hanya tindakanlah yang mengantar kepada Pencerahan,"
jawabnya, "tetapi mestinya tindakan tanpa pamrih, yang
dilakukan demi tindakan itu sendiri."
Suatu ketika Sang Guru duduk dengan anak seorang bintang
sepak bola. Ayahnya sedang latihan. Ketika sang ayah
menembakkan bola dan masuk gawang, setiap orang
bersorak-sorai. Anak itu tidak terkesan. Ia hanya duduk saja
dan kelihatan jenuh.
"Ada apa dengan kamu?" kata Sang Guru. "Apakah kamu barusan
tidak melihat ayahmu menciptakan gol itu?"
"Ya, Ayah memang jitu melakukannya pada hari Selasa ini.
Tetapi pertandingannya baru pada hari Jumat. Waktu itulah
gol benar-benar dibutuhkan."
Sang Guru menyimpulkan, "Tindakan-tindakan dianggap bernilai
jika menolong kamu mencapai tujuan-tujuan, bukan demi
tindakan itu sendiri. Sayang sekali!"
Matahari Terbit
Dua bersaudara, yang seorang membujang, yang lain kawin,
punya ladang, dengan subur menghasilkan limpah gandum.
Separuh diberikan kepada saudara yang satu dan separuhnya
kepada yang lain.
Semua berjalan baik pada awal. Lalu, terkadang saja, orang
yang kawin mulai bangun terjaga dari tidurnya di waktu malam
dan berpikir. Ini tidak adil. Saudaraku tidak kawin dan ia
mendapatkan separoh hasil ladang. Di sini aku dengan Istri
dan lima anak, jadi aku terjamin aman di masa tua. Tetapi
siapa yang menjaga saudaraku celaka nanti, kalau ia jadi
tua? Ia harus menyimpan lebih banyak bagi masa depan
daripada sekarang, maka kebutuhannya jelas lebih besar dari
pada saya.
Dengan ini ia bangun tidur, diam-diam menyelinap ke tempat
saudaranya dan memasukkan sekarung gandum dalam lumbung
saudaranya.
Si bujang mendapatkan ilham sama di waktu malam juga.
Kadang-kadang ia bangun dari tidurnya dan berkata pada
dirinya: "Ini jelas tidak adil. Saudaraku punya istri dan
lima anak dan ia mendapat separoh hasil tanah. Dan aku tidak
punya tanggungan selain diriku sendiri. Maka tidak wajar
saudaraku miskin, karena kebutuhannya jelas lebih besar dari
saya, harus menerima tepat sama seperti saya." Lalu ia
keluar dari tempat tidurnya dan memasukkan sekarung gandum
di lumbung saudaranya.
Pada suatu hari mereka bangun tidur pada waktu sama, dan
lari bertabrakan, masing-masing menggendong sekarung gandum!
Bertahun-tahun kemudian, sesudah mati, kisah itu
diketemukan. Maka ketika orang sekota itu mau membangun
kenisah mereka memilih tempat, di mana dua saudara bertemu,
sebab mereka tidak bisa memikirkan tempat lain di kota, yang
lebih suci daripada itu.
Perbedaan penting dalam agama itu bukan antara yang
beribadah dan mereka yang tidak beribadah tetapi antara
mereka yang mencinta dan yang tidak.
punya ladang, dengan subur menghasilkan limpah gandum.
Separuh diberikan kepada saudara yang satu dan separuhnya
kepada yang lain.
Semua berjalan baik pada awal. Lalu, terkadang saja, orang
yang kawin mulai bangun terjaga dari tidurnya di waktu malam
dan berpikir. Ini tidak adil. Saudaraku tidak kawin dan ia
mendapatkan separoh hasil ladang. Di sini aku dengan Istri
dan lima anak, jadi aku terjamin aman di masa tua. Tetapi
siapa yang menjaga saudaraku celaka nanti, kalau ia jadi
tua? Ia harus menyimpan lebih banyak bagi masa depan
daripada sekarang, maka kebutuhannya jelas lebih besar dari
pada saya.
Dengan ini ia bangun tidur, diam-diam menyelinap ke tempat
saudaranya dan memasukkan sekarung gandum dalam lumbung
saudaranya.
Si bujang mendapatkan ilham sama di waktu malam juga.
Kadang-kadang ia bangun dari tidurnya dan berkata pada
dirinya: "Ini jelas tidak adil. Saudaraku punya istri dan
lima anak dan ia mendapat separoh hasil tanah. Dan aku tidak
punya tanggungan selain diriku sendiri. Maka tidak wajar
saudaraku miskin, karena kebutuhannya jelas lebih besar dari
saya, harus menerima tepat sama seperti saya." Lalu ia
keluar dari tempat tidurnya dan memasukkan sekarung gandum
di lumbung saudaranya.
Pada suatu hari mereka bangun tidur pada waktu sama, dan
lari bertabrakan, masing-masing menggendong sekarung gandum!
Bertahun-tahun kemudian, sesudah mati, kisah itu
diketemukan. Maka ketika orang sekota itu mau membangun
kenisah mereka memilih tempat, di mana dua saudara bertemu,
sebab mereka tidak bisa memikirkan tempat lain di kota, yang
lebih suci daripada itu.
Perbedaan penting dalam agama itu bukan antara yang
beribadah dan mereka yang tidak beribadah tetapi antara
mereka yang mencinta dan yang tidak.
Selasa, 26 Agustus 2008
God, Thank You
Dream comes true !
Merasakan matahari terbit di Kelimutu
Terima Kasih Tuhan!
"Katakan kepada saya," kata seorang ateis, "apakah Allah itu
sungguh-sungguh ada?"
Jawab Sang Guru, "Jika kamu menginginkan saya
sungguh-sungguh jujur, saya tidak akan menjawab."
Para murid penasaran mengapa ia tidak menjawab.
"Karena pertanyaannya tidak dapat dijawab," kata Sang Guru.
"Jadi, Guru juga ateis?"
"Tentu saja tidak. Orang ateis membuat kesalahan karena
menyangkal kenyataan yang tidak mungkin dijelaskan."
Setelah diam sejenak, ia menambahkan, "Dan orang teis
membuat kesalahan karena mencoba menjelaskannya."
Lagi Tur Terbaikku
Saya "tenggelam" di tengah danau ini....
Aku sudah lama mudah naik darah. Aku serba kuatir, mudah tersinggung dan egois sekali. Setiap orang mengatakan bahwa aku harus berubah. Dan setiap orang terus-menerus menekankan, betapa mudah aku menjadi marah.
Aku sakit hati terhadap mereka, biarpun sebetulnya aku menyetujui nasehat mereka. Aku memang ingin berubah, tetapi aku tidak berdaya untuk berubah, betapapun aku telah berusaha.
Aku merasa paling tersinggung ketika sahabat karibku juga mengatakan, bahwa aku mudah naik pitam. Ia juga terus-menerus mendesak supaya aku berubah. Aku mengakui bahwa ia benar, meskipun aku tidak bisa membencinya. Aku merasa sama sekali tak berdaya dan terpasung.
Namun pada suatu hari ia berkata kepadaku: 'Jangan berubah! Tetaplah seperti itu saja. Sungguh, tidak jadi soal, apakah engkau berubah atau tidak. Aku mencintaimu sebagaimana kau ada. Aku tidak bisa tidak mencintaimu.'
Kata-kata itu berbunyi merdu dalam telingaku: 'Jangan berubah. Jangan berubah. Jangan berubah ... Aku mencintaimu.'
Dan aku menjadi tenang. Aku mulai bergairah. Dan, oh, sungguh mengherankan, aku berubah!
Sekarang aku tahu, bahwa aku tidak dapat benar-benar berubah, sebelum aku menemukan orang yang tetap akan mencintaiku, entah aku berubah atau tidak.
Aku sakit hati terhadap mereka, biarpun sebetulnya aku menyetujui nasehat mereka. Aku memang ingin berubah, tetapi aku tidak berdaya untuk berubah, betapapun aku telah berusaha.
Aku merasa paling tersinggung ketika sahabat karibku juga mengatakan, bahwa aku mudah naik pitam. Ia juga terus-menerus mendesak supaya aku berubah. Aku mengakui bahwa ia benar, meskipun aku tidak bisa membencinya. Aku merasa sama sekali tak berdaya dan terpasung.
Namun pada suatu hari ia berkata kepadaku: 'Jangan berubah! Tetaplah seperti itu saja. Sungguh, tidak jadi soal, apakah engkau berubah atau tidak. Aku mencintaimu sebagaimana kau ada. Aku tidak bisa tidak mencintaimu.'
Kata-kata itu berbunyi merdu dalam telingaku: 'Jangan berubah. Jangan berubah. Jangan berubah ... Aku mencintaimu.'
Dan aku menjadi tenang. Aku mulai bergairah. Dan, oh, sungguh mengherankan, aku berubah!
Sekarang aku tahu, bahwa aku tidak dapat benar-benar berubah, sebelum aku menemukan orang yang tetap akan mencintaiku, entah aku berubah atau tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)